source : https://www.pexels.com/photo/apple-applications-apps-cell-phone-607812/
"Secara sederhana komunikasi lisan adalah bentuk komunikasi yang dilakukan dengan mengucapkan kata-kata secara lisan dan langsung kepada lawan bicaranya. Komunikasi lisan biasanya dilakukan dengan berhadapan secara langsung. Selain itu, komunikasi lisan juga dapat dilakukan melalui media berupa komputer dengan fasilitas konferensi jarak jauh atau computer teleconference. Sedangkan komunikasi tertulis biasanya dilakukan dalam sebuah tulisan, seperti buku, surat menyurat, telegraf, email dan sebagainya."
Pada
dasarnya manusia lebih sering melakukan komunikasi lisan daripada komunikasi
tulisan. Oleh sebab itu, komunikasi lisan dianggap lebih penting daripada
komunikasi tulis. Lalu kenapa Indonesia
bisa dikategorikan dalam negara yang berkiblat pada komunikasi lisan? Berikut
beberapa pendapat menurut saya dengan dikuatkan oleh beberapa artikel yang
telah saya baca
a.
Di
Indonesia, masih terdapat banyak masyarakat tradisional yang belum mengenal
tulisan atau belum menguasai kegiatan baca tulis. Hal ini diperkuat dengan data
dari Badan Pusat Statistik, yaitu sebanyak 3,4 juta jiwa penduduk Indonesia
masih buta aksara. Disini akhirnya komunikasi lisan menjadi satu-satunya sarana
yang dapat digunakan dan dapat dilakukan dalam kegiatan berkomunikasi.
b.
Komunikasi
tertulis dalam penjelasan yang lebih kompleks, bukan hanya perihal komunikasi
yang diterapkan dalam media tulis seperti email, telegraf, surat, dan lain
lain. Tapi juga tentang komunikasi yang disampaikan dalam bentuk berita, buku,
artikel maupun jurnal. Sedangkan masyarkat Indonesia masih terhitung rendah
minat bacanya. Menurut Kepala Perpustakaan Nasional, Muh Syarif Bando, dalam
hal minat baca Indonesia masih menempati posisi rendah, yaitu 60 dari 61 negara. Hal ini pastinya berpengaruh pada
informasi yang akan diterima oleh mereka yang memiliki minat literasi rendah
Karateristik
masyarakat komunikasi lisan pastilah berbeda dengan karateristik komunikasi
tertulis. Masyarakat yang sudah terbiasa hidup tanpa bacaan, tanpa komunikasi
secara tertulis, cara berpikirnya berbeda dengan cara berpikir orang-orang atau
masyarakat yang tidak terbiasa dengan bacaan. Dalam kebudayaan lisan, hampir
semua alat indera berperan dalam pemaknaan pesan, aspek-aspek non verbal ikut
berperan dalam menunjang komunikasi ini. Maka kesamaan makna antara komunikan
dengan komunikator kemungkinan besar akan sama. Berbeda dengan budaya tulis,
dimana pemaknaan pesan harus dilakukan dengan teliti dan harus mendalam.
Studi
kasus yang bisa menggambarkan permasalahan ini adalah minimnya budaya literasi
masyarakat Indonesia, membuat masyarakat mudah terprovokasi oleh
informasi-informasi yang disebarkan melalui media tanpa melakuakn filter
terlebih dahulu. Seperti yang dijelaskan oleh riset dari Remotivi
(Remotivi.or.id) dalam episode “Apa Pengaruh Media Digital pada Cara Kita
Berpikir?” bahwa kebanyakan dari masyarakat tidak lagi membaca sebuah
informasi, namun hanya memindai. Perubahan cara ini akhirnya juga mempengaruhi
pola berpikir kita, kita tidak lagi berpikir secara mendalam. Kita berpikir
secara singkat, cepat dan dangkal.
Masyarakat
Indonesia masih tergolong sangat mudah untuk diprovokasi oleh konten media yang
mereka terima. Mereka belum mampu melakukan filterisasi terhadap kebenaran atau
fakta yang ditampilkan dalam informasi di media sosial tersebut. Masyarakat
kita masih tergolong cepat menerima tanpa melakukan riset terlebih dahulu.
Masyarakat
dalam kebudayaan lisan akan menghadapi kesulitan dalam pemaknaan informasi di
media, terutama media sosial, hal ini dikarenakan mereka terbiasa dengan
komunikasi lisan secara langsung yang terkesan cepat prosesnya. Sedangkan
masyarakat dalam kebudaayaan tertulis akan lebih mudah, karena mereka terlatih
untuk membaca dan memahami segala hal dengan mendalam. Dalam mengahadapi
perubahan ini, maysarakat Indonesia harus bersiap dan mulai belajar untuk
memahami komunikasi tertulis, agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang
tersebar dalam media saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Yudha
Manggala P Putra. 2018. Minat Baca di Indonesia Disebut Masih Rendah.
[Internet] . Tersedia di :
https://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/02/20/p4gflk284-minat-
baca-di-indonesia-disebut-masih-rendah
[Internet] . Tersedia di :
https://republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/18/02/20/p4gflk284-minat-
baca-di-indonesia-disebut-masih-rendah
Remotivi. 2018. Apa Pengaruh Media Digital pada
Cara Kita Berpikir?. [Internet].
Tersedia di : https://www.youtube.com/watch?v=Wc6HCWdwiLE
Tersedia di : https://www.youtube.com/watch?v=Wc6HCWdwiLE
Hisam
Sam. 2018. Pengertian Komunikasi Lisan dan Tertulis Secara Lengkap.
[Internet] . Tersedia di : https://www.dosenpendidikan.com/pengertian-
komunikasi-lisan-dan-tertulis-secara-lengkap/
[Internet] . Tersedia di : https://www.dosenpendidikan.com/pengertian-
komunikasi-lisan-dan-tertulis-secara-lengkap/
Badan
Pusat Statistik. 2017. Presentase Penduduk Buta Huruf menurut Kelompok
Umur, 2011-2017. [Internet] . Tersedia di :
https://bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1056
Umur, 2011-2017. [Internet] . Tersedia di :
https://bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1056

Tidak ada komentar:
Posting Komentar